Minggu, 02 Agustus 2009

Macam- Masam
Majas/ Gaya Bahasa


  • Alegori : Perbandingan suatu keadaan/peristiwa dengan beberapa kiasan yang membentuk suatu kesatuan.
- Agama adalah kompas kita dalam mengarungi samudera kehidupan yang
penuh badai dan gelombang.
  • Anafora ( paralelisme di depan ) : Pengulangan kata-kata pada awal baris untuk menegaskan maksud.
- Kepada_Mu ku menyembah
kepada_Mu ku memohon
  • Antitesis : Pemaduan kata-kata yang berlawanan arti.
- Suka duka hidup ini membuat kami makin menyatu.
  • Antiklimaks : Pengungkapan yang makin turun/melemah.
- Dalam pidato kampanyenya mula0mula ia berteriak-teriak, lima menit
kemudian suaranya parau, dan akhirnya pingsan.
  • Eufimisme : Pengungkapan secara sopan untuk hal-hal tabu.
- Anak Bapak belum waktunya naik kelas. (bodoh)
- Kita harus ikut memikirkan tunanetra dan tunarungu.
  • Epifora (paralelisme di belakang) : Pengulangan kata-kata pada akhir baris untuk penagasan maksud.
- Hartaku kuberikan
Nyawaku kuberikan
  • Hiperbola : Pengungkapan yang berlebihan/membesar-besarkan.
- Dunia terasa runtuh saat aku menghadapi kenyataan seperti ini.
- Sorak-sorai penonton membahana membelah angkasa.
  • Ironi : Sindiran dengan mengungkapkan kebalikan dari keadaan sebenarnya.
- Corat-coret di tembok itu bagus sekali. (jelek)
- Keringatnya harum sekali, tidak mandi barangkali.
  • Klimaks : Pengungkapan yang makin naik/menghebat.
- Jangankan sebulan, setahun, sewindu pun akan kutunggu dia.
Apalagi seribu sejuta pun kubayar.
  • Litotes : Pengungkapan yang berkebalikan dengan keadaan yang sebenarnya untuk merendahkan diri.
- Mampirlah ke gubuk saya.
- Hanya sepiring nasi yang dapat saya sajikan.
  • Metafora : Perbandingan langsung (perbandingan secara implisit).
- Dialah anak emas juragan kaya itu.
- Bola sudah sampai di mulut gawang.
  • Metonimia : Penyebutan merk untuk mengacu benda seutuhnya.
- Beliau ke Yogyakarta naik Kijang.
- Ia berlangganan Kompas.
  • Paradoks : Pengungkapan yang seolah-olah bertentangan.
- Tutur katanya halus tapi menyayat hati.
- Dia tertawa meski hatinya menangis.
  • Personifikasi : Penyifatan benda-benda mati dengan sifat-sifat perilaku manusia.
- Perkatannya mengiris-iris kalbuku.
- Ilalang berbisik-bisik ditiup angin.
  • Preterito : Pengungkapan secara tersembunyi karena dianggap sudah sama-sama tahu.
- Sang juara ada di kelas ini, dan anda tentu tahu siapa dia.
  • Repetisi : Pengulangan kata-kata dalam kalimat untuk menegaskan maksud.
- Di sinin dia lahir, disini dia tumbuh dan di sini dia disemayamkan
  • Simile : Perbandingan secara eksplisit dengan menggunakan kata-kata pembanding, misalkan : laksana, seperti, bagaikan, bak, dll.
- Bibirnya seperti delima merekah.
- Suaranya merdu bagaikan buluh perindu.
  • Sinekdoke pars prototo : Penyebutan sebagian untuk seluruh.
- Didatanginya tiap pintu untuk mengharap belas kasih.
- Sampai sekarang belum tampak batang hidungnya.
  • Sinekdoke totem proparte : Penyebutan seluruh untuk sebagian.
- Indonesia menang dalam perebutan piala Thomas.
- SMA Tunas Bangsa menggondol piala drum band Bupati Gungungkidul.
  • Tautologi : Penegasan maksud dengan kata-kata yang sama/senada artinya.
- Tidak, tidak mungkin ia berbuat sekejam itu.
- Aku sudah mengalah, mengalah lagi, dan terus mengalah.
- Mereka riang , gembira, dan bahagia.








































Tidak ada komentar:

Posting Komentar